Monday, March 9, 2015

CONTOH PKM-GT

unhas.jpg

PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA
TRADISIONALISASI KANTIN KAMPUS FAKULTAS PERTANIAN
UNIEVERSITAS HASANUDDIN MELALUI PROGRAM :
“BPS (Barongko, Pisang Epe, dan Sarabba) GOES TO CAMPUS”
BIDANG KEGIATAN
PKM-GT



Diusulkan oleh :
Muhammad Reski Ismail                              (B111 13 052/Angkatan 2013)
Zulaiha Tahir                                     (H12113033/Angkatan 2013)
Rahma                                                           (

UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015













KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT karena hanya dengan berkat, rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Gagasan Tertulis sebagai Proposal PKM-GT ini tepat pada waktunya.
Dalam penulisan Gagasan ini, penulis mendapatkan banyak masukan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya dalam penulisan ini terutama kepada :

  1. Kedua orangtua penulis dan segenap keluarga atas segala bantuan, dukungan, semangat, dan doa yang tidak ada putus-putusnya.
  2. Romi Librayanto, S.H, M.H selaku pembimbing atas bantuan dan masukan yang sangat membantu dalam penyelesaian naskah akdemik dan rancangan perubahan Undang-Undang Dasar Negera Republik Indonesia Tahun 1945 ini.
  3. Dekan dan segenap jajaran Pembantu Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin yang senantiasa membantu dalam hal pemberian fasilitas dan dukungan moril pendukung dalam proses penulisan ini.
  4. Pendamping kami dari UKM KPI Universitas Hasanuddin Kanda Saifullah bersama Kanda Nurfadillah yang tak henti-hentinya meberikan motivasi dan arahan dalam penyusunan Gagasan ini.
  5. Semua pihak yang telah membantu dan tidak dapat kami sebutkan satu per satu.   
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak atas segala dukungan dan perhatiannya, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan khususnya bagi pembaca dalam memahami  Gagasan Tertulis ini.
                                                       
     Makassar,  7  Maret 2015


TIM PKM-GT




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketentuan tentang wilayah negara dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah diatur dalam BAB IX A Pasal 25A yang berbunyi “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang.[1] Apa yang dijelaskan dalam pasal tersebut sebenarnya sudah cukup relevan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam hasil konvensi Montevideo tahun 1933. Yang mana suatu negara baru dapat dikategorikan berdaulat jika mempunyai unsur-unsur : (1) Penduduk yang tetap (Permanent Population), (2) Wilayah yang jelas (defined territory), (3) Pemerintah yang berdaulat (excisting government), dan  (4) kemampuan negara untuk melakukan hubungan internasional (ability to establish to communicate with foreign countries).[2] Ciri nusantara yang melekat pada Negara Indonesia mengimplikasikan bahwa Wilayah Negara Indonesia terdiri atas pulau-pulau, yang tiap pulau tersebut memiliki khas dan keragaman masing-masing. Keragaman ini yang membuat Indonesia sebagai Negara majemuk dan kaya akan kebudayaan.keseluruhan dengan keragamannya disebut sebagai Kebudayaan nasional.
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yaitu : Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya. Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”[3]. Kebudayaan nasional yang beragam dan tersebar di seluruh penjuru nusantara mempunyai ke-khasan masing-masing serta produk dari budaya tersebut misalnya bahan sandang (kain sutera, tenun), pangan (makanan tradisional) maupun papan (rumah adat).
Produk kebudayaan di berbagai daerah di Indonesia terus menuai tantangan, perkembangan teknologi serta globalisasi menjadi hal yang kontras dengan perkembangan budaya lokal karena masyarakat Indonesia cenderung lebih bangga menggunakan atau mengonsumsi produk luar negeri. Hal ini berimplikasi terhadap kurangnya minat belajar dan menggunakan produk lokal, produk luar negeri ala Barat kini menjadi gaya hidup yang banyak ditiru oleh Masyarakat Indonesia. Padahal jika dilakukan komparasi antara produk Luar negeri dengan Produk lokal dapat kita simpulkan bahwa kualitas dari keduanya ternyata bersaing atau punya karakter dan kelebihan masing-masing. Menjadi suatu kewajiban bagi segenap elemen masyarakat Indonesia untuk membudayakan upaya konsumsi produk lokal/dalam negeri khususnya produk daerah-daerah yang ada di Indonesia. Upaya tersebut harus dimulai dengan hal-hal yang sederhana serta oleh pemuda-pemuda sebagai penerus bangsa yang kini banyak menjadi konsumen produk luar negeri/barat, menurut penulis Mahasiswa dengan fungsi dan perannya merupakan elemen yang sangat penting dan berkewajiban menjadi motor penggerak dalam upaya-upaya pemeliharaan Budaya Nasional serta produk lokal.
Salah satu daerah yang mempunyai ragam budaya yang melimpah serta produk kebudayaannya adalah Sulawesi-selatan. Pantai Bira, ammotoa di Kajang, Tana Toraja serta banyak lagi kekayaan budaya yang menjadikan Sulawesi-selatan menjadi tujuan destinasi wisata budaya. selain itu, makanan tradisional yang khas seperti Konro, Coto mangkasara’, gogoso, sarabba, pisang epe, barongko dan kuliner lainnya semakin memperkaya ragam produk lokal di tanah pengerajin perahu phinisi (butta panrita lopi) ini. Namun cukup disayangkan efek dari globalisasi tidak hanya mereduksi kebudayaan di Sulawesi-selatan tetapi juga mengubah sedikit demi sedikit gaya hidup dari masyarakat Sulawesi-selatan khususnya pemuda-pemudanya. Hal ini perlu dierhatikan dan diupayakan solusi sebagai langkah nyata untuk memelihara budaya lokal serta menumbuh kembangkan semangat cinta produk lokal. Menurut hemat penulis, seharusnya Mahasiswa yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Sulawesi-selatan menjalankan peran dan fungsinya sebagai penjaga nilai (guardian of value). Ada banyak cara yang bisa dilakukan guna memelihara budaya lokal serta menumbuh kembangkan budaya cinta produk lokal, misalnya festival makanan tradisional.
Universitas Hasanuddin (UNHAS) merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Sulawesi-selatan Makassar dengan jumlah mahasiswa yang tidak sedikit. Penulis menjadikan UNHAS sebagai sasaran untuk dialakukan upaya pemeliharaan produk lokal dalam hal ini makanan tradisional. UNHAS yang sekarang telah beralih status menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Perubahan status menjadi PTN-BH berdampak pada sistem manajemen kampus, baik dari segi kebijakan serta regulasi-regulasi yang kini mengibiri hak serta fungsi mahasiswa yang ideal. Selain itu, yang cukup membutuhkan perhatian lebih ialah belum adanya sistem yang proporsional dalam bidang pengelolaan keuangan dalam hal ini UKT (Uang Kuliah Tunggal). PTN-BH yang sifatnya lebih mirip dengan Perguruan Tinggi Swasta maka UNHAS punya kewenangan penuh untuk menerapkan sendiri otonomi kampus. Salah satu kebijakan dari otonomi kampus UNHAS adalah penertiban kantin-kantin yang dikelola mace-mace[4] kampus di tiap fakultas, dan yang paling baru adalah penggusuran kantin mace-mace di fakultas pertanian UNHAS kemudian direncanakan untuk mengganti dengan kantin yang sifatnya lebih komersial bagi pihak kampus. Penertiban kantin dengan cara menggusur bukanlah solusi yang baik karena tentu saja hal ini terlihat mengarah pada usaha melumpuhkan mata pencaharian mace-mace.
Untuk itu kami menawarkan gagasan terkait upaya pemeliharaan Budaya daerah serta budaya untuk menumbuh kembangkan kecintaan masyarakat Makassar, khususnya Pemuda (mahasiswa) pada produk lokal (makanan tradisional) dengan cara Tradisionalisasi Kantin Kampus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin melalui Program “BPS (Barongko, Pisang Epe, dan Sarabba) Goes To Campus”. Sebagai sasaran awal sengaja penulis pilih Fakultas pertanian mengingat adanya upaya-upaya penggusuran mace-mace, gagasan ini dimaksudkan untuk memberikan tempat bagi mace-mace untuk berdagang dengan barang dagangan BPS (Barongko, Pisang Epe, dan Sarabba) serta alasan yang akan diuraikan pada bagian gagasan di prposal ini.

B.  Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan Gagasan ini yaitu :
  1. Untuk menjadi refleksi dalan upaya Menjaga dan memelihara Kebudayaan serta produk lokal Daerah Sulawesi-Selatan
  2. Untuk menjaga eksistensi serta membudayakan mengonsumsi makanan tradisional Sulawesi-selatan
  3. Sebagai bentuk kritik dan solusi dalam menghadapi perubahan status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum Universitas Hasanuddin
C. Manfaat
1.      Memberikan solusi terhadap masalah pendegradasian nilai-nilai lokal/tradisional di Sulawesi-selatan.
2.      Memberikan alternatif bagi mace-mace fakultas pertanian untuk mengelola kantin tradisional
3.      Memberikan tempat berdiskusi bagi civitas akademika Universitas Hasanuddin dengan suguhan jajanan tradisional yang ekonomis.









BAB II
GAGASAN
A.  Kondisi kekinian
Dewasa ini, kebudayaan lokal Sulawesi Selatan sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh budaya Barat. Hampir di semua lini kehidupan telah bercampur dengan budaya asing, tentunya hal ini dapat berdampak hilangnya budaya asli Sulawesi Selatan. Salah satu bentuk pendegradasian semangat cinta Budaya serta produk lokal adalah kurangnya minat masyarakat khususnya Pemuda terhadap upaya-upaya pemeliharaan dan pengembangan Budaya Lokal. Kebudayaan serta Produk Lokal seperti jajanan tradisional sering diacuhkan dan tidak lagi digandrungi oleh masyarakat khususnya pemuda Sulawesi Selatan. Jika hendak dikaji sebenarnya pemuda seharusnya punya peran vital dalam upaya menghidupkan nilai-nilai tradisional agar tidak tergerus oleh zaman. Pemuda di tiap tingkatan baik Pelajar hingga kaum Terpelajar di Sulawes Selatan seharusnya menjadi garda terdepan untuk memelihara dan mengupayakan eksistensi dari Produk Lokal dalam hal ini jajanan tradisional daerah. Hampir di seluruh Perguruan Tinggi di Makassar kurang memperhatikan budaya cinta Jajanan Tradisional. Hal ini bias dilihat melalui kantin-kantin yang menjajakan makanan ala Barat sehingga perlu upaya konkret untuk menanamkan budaya cinta jajanan tradisional melalui kantin-kantin kampus di Perguruan Tinggi yang tersebar di wilayah Makassar.
Universitas Hasanuddin Makassar yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia bagian Timur yang menjadi sasaran utama kami sebagai tempat pelaksanaan upaya tradisionalisasi kantin, melihat sangat minimnya pedagang yang menjajakkan makanan tradisional diseluruh kantin Fakultas di Universitas Hasanuddin. Disetiap sudut kampus merah ini, terdapat kantin yang menjajakkan berbagai jenis makanan, namun sangat sulit mendapatkan makanan yang bernuansa tradisional. Seringkali, mahasiswa harus mengitari koridor kampus untuk mencari kantin yang menjajakkan makanan tradsional yang ingin dinikmati karena harganya yang tergolong murah (ekonomis). Makanan tradisional seperti “Sanggara Unti, Pisangepe, Barongo, dan Sarabba” yang paling langka di Universitas Hasanuddinm, sehingga terpaksa harus mengomsumsi jajanan ala barat yang disediakan di kantin-kantin yang tentu saja harganya lebih mahal. Di sisi lain, Universitas Hasanuddin baru saja disahkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Dampak nyata dari perubahan status ke PTN-BH adalah UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang dibebankan sering tidak proporsional dan tergolong mahal, dan yang paling tidak adil adalah upaya penggusuran kantin-kantin (mace-mace) yang telah lama menggantungkan hidupnya sebagai pedagang di kantin kampus merah.
Tradisionalisasi Kantin Kampus merupakan solusi yang punya banyak kenggulan, selain sebagai budaya pemeliharaan jajanan tradisional, dari segi harganya juga tergolong ekonomis, keunggulan lainnya ialah mahasiswa bisa menikmati waktu senggang bersama kawan-kawan menikmati hangatnya Sarabba sibawa Sanggara unti (sarabba: minuman yang terbuat dari jahe, sibawa sanggara unti: bersama pisang goreng), tak hanya mahasiswa yang dapat menikmati waktu senggang dengan bersantai menikmati makanan khas Indonesia timur. Para dosen dan staf akan ikut serta menikmati sensasi yang tercipta dari kenikmatan Barongko (Barongko: kue yang terbuat dari pisang yang dikemas didalam daun pisang, sangat cocok untuk dinikmati dipagi hari. Barongko yang masih hangat sangat lezat dinikmati saat cuaca dingin). Suasana dengan keramaian dan menikmati lezatnya makanan tradisional, memperbincangkan berbagi hal, ada hal yang dirindukan banyak orang. Di kampus merah hampir di semua kantin-kantin dikelola oleh ibu-ibu yang dalam bahasa daerahnya “mace-mace”.  Kantin mace-mace[5] hanya beratapkan tenda berwarna biru, tapi suasana yang ditampilkan sangat mengingatkan terhadap rumah sendiri dan kampung halaman.
B.  Solusi yang pernah ditawarkan
Salah satu solusi yang pernah ditawarkan adalah diadakannya festival makanan tradisional di Universitas Hasanuddin, yang banyak dikunjungi oleh mahasiswa maupun staf/dosen. festival Jajanan Tradisional merupakan implementasi nyata betapa Makanan tradisional Sulawesi Selatan selalu menjadi primadona dan sering dirindukan oleh banyak orang. Kegiatan seperti ini tentunya membawa angin segar bagi usaha menumbuh kembangkan semaangat cinta produk tardisional yang kini tengah digempur oleh makanan instan dan makanan ala barat. Namun yang menjadi kelemahan dari Kegiatan ini ialah sifatnya yang momentuman, padahal kebutuhan akan usaha-usaha eksistensi Jajanan tradisional harus terus dihidupkan bahkan penting untuk dibudayakan di Lingkungan kampus, sehingga perlu usaha-usaha yang lebih nyata dan tidak momentuman.
Solusi lain yang pernah ditawarkan adalah Go Pangan Lokal dengan salah satu programnya menantang orang untuk mengonsumsi pangan lokal. Program ini eksis di media sosial (facebook) beberapa bulan lalu. Hal ini menarik dan banyak diminati oleh masyarakat pada waktu itu. Hanya saja program tersebut tidak berlanjut dan berhenti di tengah jalan, selain itu upaya advertising di media sosial (facebook) tidak bersifat universal karena masih banyak orang-orang yang belum aktif di media sosial (facebook). Kelemahan-kelemahan metode untuk peningkatan budaya cinta Produk lokal perlu diperhatikan dan diupayakan metode baru yang lebih inovatif. Tradisionalisasi Kantin merupakan solusi yang baik guna peningkatan minat sekaligus bentuk pemeliharaan dan peningkatan semangat cinta Produk dalam negeri dalah hal ini Jajanan Tradisional.  
C.  Sejauh mana kondisi kekinian dapat dipengaruhi dengan gagasan yang ada
Budaya Mahasiswa yang lebih berat mengarah ke budaya luar negeri/barat tentu bisa mereduksi keberadaan Budaya lokal, upaya tradisionalisasi kantin kampus tentu akan memberi dampak positif pada eksistensi jajanan tradisional serta fungsi mace-mace di Universitas Hasanuddin. Menajaga serta memelihara Produk lokal dalam hal ini jajanan tradisional dapat secara nyata dilakukan melalui tradisionalisasi kantin ini. Disamping untuk membudayakan pangan lokal, harga dari makanan tradisional ini tentunya lebih murah.
D.  Pihak-Pihak yang terlibat
Perencanaan serta pola pelaksanaan tradisionalisasi Kantin Kampus Universitas Hasanuddin khususnya Fakultas Pertanian tentunya merupakan konsep bersama atau komunal, dimana segenap elemen civitas akademika Universitas Hasanuddin terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung di dalamnya. Proporsionalisasi fungsi masing-masing elemen dianggap perlu mengingat fungsi dan kedudukan masing-masing elemen, untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
1.    Pihak Universitas
Sebagai lingkungan akademik serta penentu dan pelaksana kebijakan otonomi kampus Universitas Hasanuddin maka unsur esensial bagi Kegiatan ini adalah segenap civitas kampus merah. Mulai dari rektorat sampai ke unit-unit pelakasana teknis. Pihak rektorat dalam hal ini Rektor Universitas hasanuddin bekerjasama dengan jajarannya memberikan dukungan baik secara moril maupun materil serta kesediaanya merekomendasikan kepada Pihak Fakultas dalam hal ini Fakultas Pertanian untuk mempersiapkan serta melaksanakan teknis yang akan ditawarkan melalui gagasan tertulis ini.


2.    Pihak Fakultas Pertanian
Fakultas Pertanian sebagai sasaran tempat pelaksanaan projek ini merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya, dukungan dalam bentuk kesediaan dari pihak dekanat untuk mempersiapkan lokasi serta kebijakan yang sifatnya fakultatif adalah hal yang paling urgen. Selain penyediaan lokasi dan pengaturan kantin mace-mace, serta penyediaan bahan mentah untuk diolah menjadi produk makanan tradisional juga mesti diusahakan, mengingat keilmuan dari Fakultas Pertanian yang sangat mampu mengakomidir kebutuhan Bahan Pangan Jajanan Tradisonal. Kerjasama dalam hal penyediaan bahan pangan lokal yaitu Pisang, Daun Pisang, Buah Kelapa, serta bahan-bahan lainnya bisa dijadikan produk dari Fakultas Pertanian.  
3.    Mahasiswa dan Dosen
Sebagai sasaran dari produk atau gagasan Tradisionalisasi Kantin Kampus Unhas, segenap civitas akademika Universitas Hasanuddin juga berfungsi sebagai media advertising dalam lingkup internal maupun eksternal. Hal ini dimaksudkan agar eksistensi dari produk pangan local ini bisa menjadi komoditas yang digemari.
D. Langkah Strategis
Sebagai implementasi dari ide Tradisionalisasi Kantin Kampus Unhas, perlu untuk diterapkan langkah-langkah strategis guna pengaktualisasian Projek ini. Adapun langkah strategis yang akan dilaksanakan yaitu :
1.    Proses Prposal
Pengajuan gagasan kepada pihak rekotrat dan dekanat merupakan langkah awal sebelum melaksanakan projek ini, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh dukungan dari pihak Kampus Unhas. Selain kepada Rektorat dan dekanat, pengajuan kerjasama juga perlu dilakukan kepada pengelola Kantin kampus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
2.    Tahap Produksi
Setalah mendapatkan rekomendasi dan dukungan dari Pihak Universitas dan fakultas serta kesediaan dari Pengelola Kantin Kampus, selanjutnya dilakukan usaha penyediaan bahan untuk diolah. Bahan yang akan diolah idealnya berasal dari produksi fakultas pertanian. Bahan yang dibutuhkan untuk membuat Sarabba, Pisang goring (Sanggara Unti), Pisang Epe, dan barongko yaitu Pisang, Daun Pisang, Lengkuas, Kelapa, dan Merica. Untuk proses pengelolaannya menjadi makanan tradisional, perlu diadakan pembimbingan dan hal ini tidak terlalu susah karena makanan ini adalah khas makanan tradisonal Sulawesi Selatan.
3.    Marketing
Makanan Tradisional yang dijual di Kantin Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin selanjutnya dijual dengan harga ekonomis. Hal yang menunjang daya jual adalah promosi sehingga perlu dibentuk tim khusus untuk mempromosikan Kantin Tradisional ini. Unit Kegiatan Mahasiswa seperti Koran Lokal (identitas), Radio Kampus, serta media sosial merupakan media advertising yang ideal untuk mempromosikan Kantn Tradisional. Kantin Tradisional ini juga tentunya bisa menjadi tempat diskusi bagi dosen maupun mahasiswa.























BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Tradisionalisasi Kantin Kampus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin melalui Program “BPS (Barongko, Pisang Epe, dan Sarabba) Goes To Campus” merupakan solusi yang paling ideal melihat kondisi kekinian Permasalahan degradasi budaya daerah Sulawesi-selatan serta kondisi Universitas Hasanuddin dengan otonomi kampusnya. Sinergi dari kedua permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan proporsionalisasi manajemen kampus. Permasalahan degradasi budaya tidak seharusnya dipandang secara partikulir, butuh kajian secara mendalam dan menyuluruh guna memperoleh solusi-solusi yang sederhana dan praktis. Melalui Program ini, diharapkan permasalahan yang dibahas pada bagian pendahuluan proposal ini bisa terselesaikan dengan baik.
B.  Saran
Diperlukan upaya lebih lanjut dan lebih umum terkait penguatan dan penanaman nilai-nilai cinta budaya serta produk lokal di kalangan pemuda Sulawesi-selatan. Ada banyak solusi yang tentunya bisa dijadikan solusi melihat kondisi kekinian di Sulawesi-selatan secara umum. Gagasan ini dimaksudkan sebagai masukan dalam melihat permasalahan yang terjadi di sekitar penulis.


[1] Pasal 25A UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 (Hasil Perubahan II)
[2] Lihat Naskah akademik usul perubahan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 dari Komisi Konstitusi, (2004), hal 93-94
[3] Direktorat Sejarah dan Nilai Tradsional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan
[4] mace-mace adalah ibu-ibu yang berdagang di kantin kampus Universitas Hasanuddin, mace-mace adalah penduduk asli maupun pendatang yang tinggal di sekitar kampus UNHAS Tamalanrea.
[5] Warung sederhana tempat berkumpulnya mahasiswa diwaktu senggang, bersantai, dan disuguhkan kopi panas dan beberapa makanan tadisional yang disajikan dari ibu-ibu yang sangat ramah)
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kita dalam Kata

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Berita Harian

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts