Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Friday, February 24, 2017

Istirahat

Akhirnya Bibirmu menjadi bangkai di keningku,
setelah hari tertatih-tatih berlari,
juga hati yang tak letih-letih mencari,
batas jalan membawamu menuju tualang,
aku menjadi kata yang tak fasih lagi menyembunyikan lagu kehilangan.

di wajahku, Mata air mengalir menjadi air mata,
sekumpulan rasa tak mampu menjadi frasa pereda duka, puisiku penuh luka, 
detak detik waktu menyayat bait demi bait, 
hingga tersisa huruf-huruf kecil yang kehilangan makna.
masa depan telah lama melupakan kita,
tak ada gunanya kau menaruh cinta,
aku tak berani lagi merawat harapan.

Polewali, 24 Februari
Share:

Thursday, February 23, 2017

Aku Pergi Ketika Segalanya Pulang

Akhirnya aku tinggal dan kau meninggalkan,
ketika langit berapi-api, dan mataku diusap asap, aku tak apa-apa
Perpisahan akan tiba jua,
sekuat apapun kita meringkas jarak dan masa.
Kemarin akan pergi, sebentar lagi, sebentar pagi.

Sedangkan,
Malam ini, nyeri menari-nari mencari kenangan
yang tercuri oleh jutaan kehilangan,
dan untuk kepingan kisah yang paling kasih,
aku amat berterimakasih.

Desember menjatuhkan diri kepelukan masa lalu,
bulan hujan berjalan menuju pulang,
tahun akan berulang, aku akan kembali berulang tahun.

Untuk mata yang gagal membendung harapan,
maafkan atas ketidakberdayaanku di hadapan kenyataan
selama dua belas purnama lebih.

-Hampir Januari

Share:

Kala Ku Tiada Lagi

Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala jemariku tak mampu lagi tuk ungkapkan semua isi hatiku,
bahkan usus dan segenggam khayalanku
Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala kata tiada lagi bermakna
Kala mentari telah begitu gelap
Dan aku tak tahu lagi posisiku dimana.

Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala semua yang pernah kutanggalkan kupakai dan kuketatkan kembali
Dimana aku kembali menjadi bayi lagi

Dan saat kau ke rumahku Lalu kau tancapkan bendera putih
Lalu kau pahat nisanku
Kau galikan liangku Kau taburinya dengan bunga
Dan kau menangis sedang aku tersenyum
Maka aku takkan pergi meninggalkanmu
Karena aku masih berada di setiap puisiku
Kecuali kau tak betah lagi Kala aku menyanyi,
teriak dan diam di rumah imajimu.

Makassar, 2000
Share:

Wednesday, February 22, 2017

"JA[t]UH"

Kata-kata yang pernah beku dalam kita, khidmat membaca mataku.
Juga Sekumpulan resah yang resap di antara sisa-sisa rasa,
seorang petualang pernah tersesat di pilang-pilang ingatan,
jejak kakinya silang menyilang menyulam langkah menuju sarung tidurku tiap malam.
Ingin pulang, namun palung duka teramat luas tuk dijama langkah.
Bunga memerahkan ruang-ruang yang dahulu penuh riang,
kini daun-daunnya yang meriang jatuh satu demi satu,
terkubur ke dalam liang lalu hilang.
Hanya ada duri sebagai satu-satunya pertanda
bahwa sejenis mawar pernah mekar dalam lembaran kisah-kisah kehilangan.
Kau lembaran terakhir.

Kesendirian telah mengajarkanku banyak hal,
salah satu yang paling kusuka adalah cara melepas duri-durimu dari isi dadaku sebelah kiri.

-Ki
Share:

"Mata yang Membunuh Dirinya Sendiri"

Mataku, lampu jalan di tengah malam
menghitung satu demi satu kendaraan yang merayap, berjalan pulang atau pergi dari petang ke remang lalu hilang.
Garis menjadi baris puisi,
Gadis menjadi manis dalam ilusi,
Gelap tak pernah lelah menjatuhkan dirinya pada cahaya, manusia menamainya terang kemudian berlalulalang di tengahnya.
Mereka tak mengerti bahwa menamai sesuatu tak selalu mampu meredakan sunyi.

Mataku semakin gigil, malam semakin malam, mesin-mesin beroda mulai berdoa di segala tempat mereka tiba, lengang, gulita menghampiri dan meletakkan wajahnya di lengan, dan untuk kesekian kalinya, malam buram menjadi kekasih yang paling terakhir, meskipun aku mencintai dengan cara melukai.

Mataku, cahaya yang diredupkan cahaya, pagi membuatnya pergi, di dadaku ada yang perih tapi aku tak pernah tau cara bersedih, aku diciptakan untuk menjaga malam agar tak menganggu manusia-manusia yang menurutku malang, aku diciptakan agar wanita-wanita jalang tak berbuat sembarangan di tepi jalan, aku diciptakan untuk membunuh sekaligus mencintai malam. Aku diciptakan untuk membenci diriku sendiri.

Polewali,

Share:

Thursday, February 18, 2016

Sepasang Pigura

Pigura  dalam lemari tua,
Wajah-wajah kita gelisah hendak bersua,
Aku dicetak lebih dulu, dua hari kira-kira,
Sebelum kau yang usiamu saja kadang sulit kau kira.
Tapi kau lebih setia dari warna kulitku,
Dulu kita secerah pagi yang balita, lalu kini gelap gulita,
Mereka mengenali kita karena tulisan di punggung, selebihnya
Kita hanyalah warisan tak berharga, memang baginya,
tapi bagiku kau selalu sebenar-benarnya harta
juga gradasi yang paling warna.

Debu-debu pengabaian tumbuh subur di bahu dan mata,
Inilah mati yang sejati, ketika ingatan telah mengubur kita dalam kalimat tanya, siapa? Lalu mereka jawab" bukan siapa-siapa.
Pigura yang aku akhirnya dibuang, tapi kau dibersihkan lalu disimpan rapi, kau memang cantik untuk masaku dan masanya. Makanya tak mengapa jika kau tinggal lalu aku tanggal.

Aku memang lebih senang jadi sampah daripada jadi Raja yang tak dikenali anak-anaknya. Asal jangan kau.

Makassar, 5 Februari 2016

Share:

Monday, April 13, 2015

DIA ADALAH INDAH

Dia adalah Indah, kemilau surga terpancar dengan lembut dari matanya.
waktu bagai rinai hujan dengan kesejukannya, terasa lembut dan sejuk,
Dia bagai udara, membelai dan menerbangkan. Ku hirup dan ku hidup,
Menatapnya dari dekat ataupun jauh tak berbeda, terpisah laut atau langit dia tetap Indah.

Bagaimana cara mendekapnya ? Menyentuh saja, jemariku terasa kaku,tak layak.
Dia adalah Indah, namanya terasa Indah, menyebut atau mengingatnya sama saja,
tak akan kurang keindahannya,
Mencintainya terasa aneh bagiku, berat. Tapi lebih berat jika ku berhenti.
Harapanku menggunung dan telah sampai puncak,
di sekitarku hanya kesejukan, awan terlihat manja bagai laut yang menyatu dengan langit.
Bunga mekar warna warni, mentari memeluk pagi.
Teramat sayang jika ku menyatakannya melalui kata, karena semua pasti akan terlihat sederhana.
Dia adalah indah, mengajarkanku cara bersabar tuk menjaga rasa dan frasa.
Mengajarkanku tuk melihat subuh dengan kesejatiannya atau penghujung senja dengan ketenangannya.
Tak terasa aku merasakan perasaan yang tak pernah ku rasa sebelumnya.
Izinkan aku untuk terus menjadi kawanmu dalam belajar,
hingga nanti aku telah cukup dan menjadi imammu.
Dia adalah Indah, sebuah kata, sebuah nama, sebuah kisah, menjadi Cinta.
Makassar, April 2015
Share:

Thursday, April 9, 2015

Sajak Untuk Surgaku

Adinda, ingin rasanya aku berkata jujur dan tersurat,
Ihwal kegelisahanku menahan degup rindu yang tak tentu arah,Lebur penantianku pada merah siang itu, tampak senyummu menjawab risau yang mengawan sejak malam-malam lalu.
Kekagumanku memuncak bersama tawa kecil di sela tuturmu,
Apakah terlalu pagi jika aku menatapmu dengan cinta ?
Di malam yang manja dengan lautan bintang menabur rindu,
gemulai gelap mendekap sunyi dan kesendirianku,
terasa kaku jemariku untuk menulismu dalam kata,
terasa canggung bagiku untuk melukismu dalam diksi.
Bagiku menulismu hanya akan membatasimu juga rinduku.
Waktu beranjak perlahan, begitu dingin jemarinya melepas genggamanku
Rinai hujan begitu mungil dari langit, basahi sepi, letih
Taukah kau Adinda, penantianku bagai sungai dengan kebeningannya,
kau boleh menjadi terik dan menguapkanku, atau bahkan menegukku,
namun kesejukanku akan tetap selalu mengalir, dan bermuara pada keridhaan Ilahi, biar waktu dan semesta yang membenarkan betapa setianya aku kembali dan kembali untuk melepas dahagamu.
Adinda, padamu ku tatap surga sebelum Surga yang sebenarnya,
Maka izinkanlah aku untuk senantiasa menisbatkan gerak dan tarikan nafasku dengan ikhlas untuk membahagiakanmu.

Makassar, 7 April 2015
Share:

Friday, December 26, 2014

Sajak Duka pada Luka



Pada malam yang sembunyikan duka,
Pada gelapnya, pada hitamnya ku cumbui rndu-rindu yang hambar
Cahaya yang warnai kulit dan merahi darah, meredup dengan lembutnya,
Ada apa cinta ? kau semakin sukar tuk kubahasakan dengan kata atau berkata.
Apa mungkin kita tidak lagi kita seperti kita sebelum kita yang sekarang ?
Entah, Tuhan Maha Tau kebenaran yang lebih benar dari sekedar benarmu.

Aku hilang di antara ada dan ada di langit,
Dingin dan bimbang mengetahkanku diantara ingin juga angan,
Kita belajar melupa tentang malam , memberi pahit pada cemburu-cemburu liar,
Ada apa dengan ampun atau mengampuni? Teramat sulit kita berdamai dengan waktu
Juga semua yang bukan waktu.
Kini kau lepas dekapmu, dekapanmu dari jiwa. Dari jiwa.
Biar ku larikan duka, biar ku cintai luka bersama butir-butir senyum yang pernah kau hibahkan.
Biar aku, atau malam menelan.

Kita begitu keras, keras hati, jwa, raga dan cemburu.
Mencintamu membuatku menyesal karena mesti kehilanganmu.
Mencinta dirimu membuatku meragu tuk berhenti mencinta.
Aku akan berhenti sekarang, biar dunia dan semesta menceritakan pada semesta selanjutnya,
Tentang kata yang lebih dari kata. Cinta yang lebih dari cinta,
Karena aku dan egoku tak pernah mampu menjelaskan cinta.

Bulukumba, 9 Juli 14


Share:

Tuesday, December 16, 2014

Aku berkata "Aku Mencintaimu"

Adinda yang tampak kebiruan, aku mulai jenuh melihat hukum atau politik menyekat perasaan rindu terhadapmu.
Aku mulai meragu tentang prosedur yang sarat akan penyelewengan,
boleh kah aku membahasakan cinta dengan cara yang ikhlas dan sederhana ?
Tidak ada bunga mawar yang banyak atau Boneka HelloKitty berwarna Pink
seperti kesukaan banyak wanita.
Bolehkah cukup dengan berkata "Demi Allah, Aku Benar Mencintaimu sepenuh jiwa"?
 tanpa embel-embel berbentuk materi dan kontrak sosial lainnya.
 Mungkin bagimu, cinta itu adalah memberi atau memperhatikan,
 memang tidak salah tapi, bagiku Cinta tak akan pernah se-sederhana itu untuk kau pahami
 terlebih untuk kau rasakan,
bagiku Cinta adalah Zat yang manunggal dan Universal,
serta berbentuk cinta pada wujud asalnya,
Memang sedikit rumit, untuk itu aku hadir dan mengajakmu untuk belajar bersama memahami cinta, dan memanfaatkannya untuk kesempurnaan akhlak.
Memang kita lahir ke-dunia tanpa apa-apa, begitupun jika kita telah kembali.
Sungguh kesendirian itu menyakitkan,
maka Tuhan menisbatkan kemurnian cinta pada makhluk lainnya untuk bersama, dan bagiku kaulah manifestasi dari anugrah Tuhan.
Aku tak akan memintamu untuk menjadi milikku sekarang atau bahkan nanti,
aku hanya berharap bahwa benar Tuhan menakdirkan Cintamu melebur denganku.
Jangan pernah merasa sendiri Adinda, bukankah bersama adalah bentuk nyata dari teori Zoon Politicon Aristoteles, dimana kesendirian bukanlah esensi manusia seutuhnya.
Adinda yang telah menjadi merah dalam jiwa,
kejenuhanku semakin nyata kala melihat dunia yang tak romantis lagi kepadaku,
Izinkan aku menatapmu sebagai ramuan obat kuat.
 karena malam dan siang tak pernah mau mengerti betapa Aku Mencintaimu,
bagiku materi telah membenci semangat juangku,
 tak apa karena Cinta yang hakiki tak akan pernah mampu diukur dengan bentuk materi yang sempurna sekalipun.
Adinda, biarkan aku berkeluh kesah karena kecintaanku padamu, aku mulai buntu dan kalut untuk mengusahakan sesuatu,
bagiku "Aku Mencintaimu, dan tidak selain itu"

Sekret TRM 16 Desember 2014
Share:

Saturday, November 29, 2014

"Battu temaiki ammato ?"


Aku pernah tersesat di tengah belantara,
Pada sepi dan angin tipis berhembus dingin,
Alam dan malam terasa ramah dan segar,
Aneh, aku seperti akrab.
Apa aku benar sendirian atau hanya sunyi yang terlihat ?
 Daun pohon bambu menarikan tarian cinta,
 rumput terasa sejuk dan lembut memanjakan kantuk.
Aku terlelap pada belantara yang anggun.

Aku terbangun kala mentari hangat mengetuk mimpi,
cahayanya begitu halus membelai dedaunan dan kain hitam berbentuk kerucut yang tiba-tiba ada di kepalaku,
ku gerahyangi pagi yang menyatu dengan embun,
aku terus bertanya-tanya ihwal ke-diri-anku dan tanah ini.
Di sekitarku, ku lihat manusia-manusia mengenakan pakaian hitam,
dengan kaki telanjang mereka menapaki jalan berbatu.
Di atas kepala lelaki kulihat kain hitam seperti yang ada di kepalaku,
wanita-wanita terlihat lebih perkasa, ada yang sedang menenun.
Di sekitar hanya ada rumah-rumah panggung,
sederhana namun menyimpan nilai yang begitu sakral dan anggun,
orang-orang menatapku, tunduk dan tersenyum.
Aku semakin heran, di sini semua melakukan segala hal dengan sederhana.
Dari ke jauhan, segerombalan orang tua menghampiriku,
mereka berkata "battu temaiki ammatoa ?"

 Makassar, 29-11-2014
Share:

Friday, November 21, 2014

Sajak Sepeninggal Agustus

Dipertemukan pada awal rembulan yang indah, gerahyangi cinta dengan nafas setengah jiwa, ada kata yang terpaksa menjadi frasa, Memeluk raga dan menjelajah pada ruang rasa dan hampa Tampak kebisuan membahasakan rindu yang hambar, ku sebut itu cinta karena malam memaksa tuk bercinta. Hari-hari berlalu bagai embun pada penghujung pagi, begitu rancu dan tak beraroma sama sekali, kusam. Kau bagai siang dengan keangkuhannya, sedang cintaku bagai malam dengan keheningannya, kita paksakan tuk bertemu pada senja atau pagi yang gulita. Memang singkat kau ku dekap, namun wangimu semakin melekat seiring langkahmu yang semakin menjauh. Aku menulismu dalam kata dan nada pilu, merindumu pada waktu-waktu yang kelabu, Di penghujung rembulan yang masih indah, ku dekap butir-butir senyum yang pernah kau hibahkan, Ku sandarkan risau pada sepi sepeninggal agustus, ku tangisi waktu dan tiap-tiap detak detiknya. lalu, ku sebut kau cinta walau kita tak pernah bersepakat dengan cinta. Kasih, Kita tak pernah bersepakat dengan waktu dan semua yang sempat kita sebut rindu. Makassar, 04 Nov, 2014
Share:

"Segenggam Purnama untuk kekasihku"

Teduh malam, diselimuti emas dan segenggam purnama,
Ku hirup tiap tetes udara beraroma senja,
 terendap raga di wajah kemilau bunga malam.
 Begitu sejuk dan anggun jemari kecilnya mendekap jiwaku.
Dingin,angin dan angan berpusar pada hening yang manja,
Ku peluk rinduku dan terbang menyelami awan,
ku tulis dalam hembus angin dan ku titip pada embun untuk esok pagi.
Aku benar-benar merindumu dalam bisu.

Kabut ringan mengapung di hitamnya langit,
berbisik pelan melalui udara yang beku,
 Garis-garis pelangi menjadi bait dan warnai rembulan.
Kasih, kau bagai cahaya pada gelapku saat ini,
senyummu mengisahkan rindu dan cinta tanpa kata.
Maaf kasih, aku belum paham ihwal bentuk cinta yang kau damba.
Kasihku yg semakin larut dalam darah,
aku tak akan pernah bisa melukiskan teduh bulan dengan sempurna,
aku juga tak akan sanggup membawakanmu siluet purnama dengan keindahannya.
Biarlah bulan menjadi hak gulita malam,
biarlah sinarnya mewarnai kelam bagi mereka yang selalu bersandar di bahu malam.
Kasih dan manisku, lihatlah ke langit,
pandangi pesona purnama, aku ada di sana,
memotong bulan agar tak seorangpun yg bisa menikmati purnama esok atau selamanya,
keculi kita untuk sebuah kisah di ruang para malaikat.

AsalMula,5 Nov. 2014
Share:

Tuesday, November 4, 2014

"Cinta ada pada Kesendirianmu"


Untuk malam dan ihwal kegelapannya,
sengaja ku tulis rasa pada hening dekapan angin.
Menyanyikan rindu dengan irama-irama yang sendu,
Ingin ku membawa duka menari di angkasa, tapi pekat awan semakin erat memelukku, jiwaku remuk bagai dedaunan di musim kemarau, tak ku temui hijau seperti kemarin.

Adinda yang memaksaku tuk menulis tentang sepi,
maaf, jika diksi yang ku pilih beraroma fiksi, atau mungkin tak kau sukai,
aku tak akan pernah bisa melukismu dalam kesendirian, sebab kesendirian adalah sunyi, sunyi adalah hampa, dan hampa bukanlah apa-apa.
Sementara zat dan rekah senyummu telah berpadu pada tiap garis, tiap baris, tiap frasa dan tiap rasa dari bahasaku. Tak pantas kau tuk ku abadikan dalam sajak-sajak atau puisi sepi.

Adinda, lihatlah ke langit luas, pandangi tiap-tiap warna yang hinggap di dahan dan ranting malam, kau tak pernah melukis merah atau biru, tak salah jika malam tak pernah memberimu warna selain gelap dan sedikit cahayanya.
Maaf jika ku sebut kau sebagai adinda, dan maaf jika pintamu tuk menyendiri tak mampu ku kabulkan lewat berkata, Adinda.
Jika waktu telah menyentuh sejuk mentari esok, dandanilah senyummu dan warnai langit, serta dengar permohonanku agar tak pernah lagi kau memaksaku tuk membacamu dengan sunyi. Karena Tuhan dan keindahan Cintanya akan selalu ada dan paling dekat denganmu.


Makassar, 04 Nov. 2014
Share:

Sajak Sepeninggal Agustus


Dipertemukan pada awal rembulan yang indah,
gerahyangi cinta dengan nafas setengah jiwa, ada kata yang terpaksa menjadi frasa,
Memeluk raga dan menjelajah pada ruang rasa dan hampa
Tampak kebisuan membahasakan rindu yang hambar, ku sebut itu cinta
karena malam memaksa tuk bercinta.
Hari-hari berlalu bagai embun pada penghujung pagi,
begitu rancu dan tak beraroma sama sekali, kusam.
Kau bagai siang dengan keangkuhannya, sedang cintaku bagai
malam dengan keheningannya, kita paksakan tuk bertemu pada senja atau
pagi yang gulita. Memang singkat kau ku dekap, namun wangimu
semakin melekat seiring langkahmu yang semakin menjauh.
Aku menulismu dalam kata dan nada pilu,
merindumu pada waktu-waktu yang kelabu,
Di penghujung rembulan yang masih indah,
ku dekap butir-butir senyum yang pernah kau hibahkan,
Ku sandarkan risau pada sepi sepeninggal agustus, ku tangisi waktu dan tiap-tiap detak detiknya. lalu,
ku sebut kau cinta walau kita tak pernah bersepakat dengan cinta.
Kasih, Kita tak pernah bersepakat dengan waktu dan semua yang sempat kita sebut rindu.
Makassar, 04 Nov, 2014
Share:

Saturday, October 11, 2014

PADA

Pada masa yang dicemburui waktu,
mengendap jutaan aroma di permukaan frasa
ada Rindu yang berkecamuk, ada pilu yang mengamuk,
ada pula udara cinta yang tak kunjung kau hirup.

Pada Duka yang setia dilukai,
melayang embun dan mengambang di pelupuk jiwa,
beku hati dan mati rasa, tak ada warna yang bisa membedakan
sepi dan sunyi. Terperangkap malam pada ujung senja.

Pada Rindu yang kita benci,
ku dekap kau dengan butir butir senyummu,
ku buai dengan cinta cinta di langit,
ku cumbui di ruang para malaikat,
Sebatas kaki kaki langit, telah kubahasakan semua waktu,
tapi detiknya tak kunjung kembali atau berhenti.

Pada benci yang selalu aku rindui,
ku cari lagi hikmah pagi yang pernah memanjakan jiwa,
karena mengharapkanmu bagai hidup tak berjantung.
Share:

Saturday, October 4, 2014

Salah

Kasih, aku ingin berkata bahwa AKU MENCINTAIMU
Aku tak ingin banyak selain dari kita di atas,
Aku tak ingin berkata bahwa aku merindu atau sayang
Aku hanya ingin berkata bahwa AKU MENCINTAIMU

Semua kisah tak cukup untuk dikisahkan dengan berkata,
semua rasa tak akan mampu terkatakan lewat tulisan dan frasa
Semua yang ku bahasakan lewat kata atau frasa yang kau baca,
mungkin saja terlihat biasa saja,
karena niatku memang tuk membahsakanmu dengan sederhana,
Tak perlu ku ibaratkan kau dengan keindahan yang ada,
kau selalu lebih dari ibarat semua yang ada.

Kasih, 
Aku bosan berbohong, aku sedang berusaha membencimu,
bantu aku karena memang tak mudah kau tuk kujadikan tempat
bersandarnya amarah.
Kau memang pantas ku benci tapi kau lebih pantas tuk ku cinta.
Kau benar telah menjadi darah di nadi.
Untuk menghilangkanmu aku harus kehilangan Jantungku.
 
Share:

Thursday, September 25, 2014

Cintaku bukan penjara

Terimalah manisku, kita telah banyak tau tentang luka atau duka.
Tentang rindu atau sepi yang lebih dari sepi.
kita pernah menjadi pahit pada pahit yang sebenarnya.
Kita pernah !

Sekarang ku sambut diriku dengan diri yang lebih bisa mencinta,
aku telah belajar sebanyak yang kau butuhkan untuk dicinta.
Jika memang bumi masih sulit tuk terima tulusku,
biarkan langit yang bahasakan kebenaran yang jujur.
Aku tak akan memaksa karena cintaku bukan penjara.

Teramat dingin dan kaku jiwamu hari ini,
seolah kau paham tentang dunia atau tentang cinta cinta di langit.
Kau senyum dalam kekakuan, aku susah tuk paham walau ku coba dengan perlahan.
Kau banyak benarnya tentang rasa atau semua yang bukan rasa,
tapi kau salah besar terhadap Cinta dan tidak selain itu.
Aku ingin banyak mencoba manisku.
Aku ingin.

Pada malam yang kecewa, atau waktu yang gila.
Terakhir dan yang paling tulus, ku bahasakan kau dengan Diriku.
Kucinta kau dengan cinta. Ku rindu kau dengan rindu.
Dan ingat, Cintaku Bukan Penjara

Bulukumba, 24 Juli 14
Share:

JIKA CINTA ADALAH TULISAN

Entah, apa yang akan ku tulis,
malam hanya beri sedikit waktu dan luang
Ada kisa yang sulit tuk dikisahkan
ada pula kasih yang serasa mustahil tuk berkasih
lalu pena masih angkuh
******
Aku hendak mengajarimu tentang senyum
mengajarimu cara tuk tidak bersedih
berbagi tentang perih, pedih karena memuliakan ikhlas
mengajarimu banyak tentang hidup dan berhidup yang sebanarnya
******
Betapapun capung teramat dekat
tapi bagai sulit tuk mendekat
inilah alasan, kenapa dunia tak paham dengan merahmu
Terbang dan bagai siluet senja
terbang dan lupa tentang cara tuk hinggap
Bagaimana mungkin kau paham tentang duri
sedang menatapnya saja kau enggan.
Bagaimana pula kau hidup dalam meng-hindar jika semak
mulai menjadi pintu terakhir dan tamat
******
Jika bagimu, cinta adalah tulisan
maka aku adalah demikian

Makassar Maret 2014
Share:

AKU MAU MENULIS CINTA

Aku mau mnlis cinta,
C kmmudian I dan strusnya.
Aku tak mau skdar kau rsa, aku tak mau.
Aku mau mnlis cinta untuk kau baca, untk kau simpan,
untuk kau tnjukkan kpda mreka yg tdak senang meRASA.
Aku mau mnuliskan lnjutannya,
N kmudian T dan strusnya,
Aku mau kita tak buta dan snantiasa mau mmbca.
Sbab tak smua kata dpat ku ucap dngn berkata,
tak smua sikap mampu kita pahami dengan bersikap,
Aku mau menulis.
menulis suka, menulis duka, menulis luka, menulis lupa,
Menulis cara menulis, menulis cara tuk tidak menulis,
Karena ada yg harus ku tuliskan, dan adapula yg cukup kita
rasakan.
A 


Makassar, 7 april 14
Share:
Kita dalam Kata

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Berita Harian

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts