Thursday, April 9, 2015

Sajak Untuk Surgaku

Adinda, ingin rasanya aku berkata jujur dan tersurat,
Ihwal kegelisahanku menahan degup rindu yang tak tentu arah,Lebur penantianku pada merah siang itu, tampak senyummu menjawab risau yang mengawan sejak malam-malam lalu.
Kekagumanku memuncak bersama tawa kecil di sela tuturmu,
Apakah terlalu pagi jika aku menatapmu dengan cinta ?
Di malam yang manja dengan lautan bintang menabur rindu,
gemulai gelap mendekap sunyi dan kesendirianku,
terasa kaku jemariku untuk menulismu dalam kata,
terasa canggung bagiku untuk melukismu dalam diksi.
Bagiku menulismu hanya akan membatasimu juga rinduku.
Waktu beranjak perlahan, begitu dingin jemarinya melepas genggamanku
Rinai hujan begitu mungil dari langit, basahi sepi, letih
Taukah kau Adinda, penantianku bagai sungai dengan kebeningannya,
kau boleh menjadi terik dan menguapkanku, atau bahkan menegukku,
namun kesejukanku akan tetap selalu mengalir, dan bermuara pada keridhaan Ilahi, biar waktu dan semesta yang membenarkan betapa setianya aku kembali dan kembali untuk melepas dahagamu.
Adinda, padamu ku tatap surga sebelum Surga yang sebenarnya,
Maka izinkanlah aku untuk senantiasa menisbatkan gerak dan tarikan nafasku dengan ikhlas untuk membahagiakanmu.

Makassar, 7 April 2015
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kita dalam Kata

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Berita Harian

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts