Tuesday, November 4, 2014

30 Oktober pukul 2:15 ·

Adinda, aku telah banyak mengagumi lewat kata atau tak berkata. Semakin kubahasakan kau, semakin sulit kau tuk kutemukan. Adinda yg bagiku tak pernah pudar pesonanya, kau adalah bentuk semu dari keindahan. Kau belum ku temukan di alam nyata namun kau selalu meng-ada di alam jiwa. Adinda, kau ku rindui walau tak pernah ku temui. Kata orang, kau bagaikan Mustahil yg Senantiasa KuSemogakan. Adinda-adinda jadilah Adindaku.
Share:

31 Oktober pukul 1:21 ·

Penghujung Oktober, Adinda kata mereka kau adalah sebentuk kisah yang takkan pernah menjadi nyata. Kata mereka kau adalah khayal yg sempat ku kutip dari Orang hebat. Terserah mereka, bagiku kau tetap punya roh dan selalu ku semogakan untuk meng-Ada dalam nyata. Jiwaku telah sesak dengan harapan. Menunggu adalah sebentuk keidahan, tak apalah akan kunikmati dengan ikhlas. Adinda, aku mendambamu dalam pekat malam juga dalam riuh siang.
Share:

Muhammad Resky Ismail 31 Oktober pukul 16:30 ·

Kau bilang terserah, ku bilang inshaAllah aku akan lbih banyak bersabar. Aku mencintaimu bukan agar kau terima aku jadi kekasihmu, aku mencintaimu agar kau bisa ikhlas dan paham bahwa aku benar mencintaimu. Berapa lama pun waktu yg kau butuhkan untuk mengerti sebanyak itu pula aku akan menunggu, bersabar dan ikhlas. Semoga berkah, aamiin
Share:

Kemarin jam 18:43 ·

Aku ingin melukismu dalam kata, mendekapmu erat dengan frasa dan rasa yg merindu. Aku ingin menulismu pada langit, pada malamnya yg bertabur bintang, pada siangnya yg berwarna emas. Kasih dan manisku, aku ingin memahat senyummu di pelupuk jiwa, mengabadikanmu dengan cinta.
Share:

Sajak Sepeninggal Agustus


Dipertemukan pada awal rembulan yang indah,
gerahyangi cinta dengan nafas setengah jiwa, ada kata yang terpaksa menjadi frasa,
Memeluk raga dan menjelajah pada ruang rasa dan hampa
Tampak kebisuan membahasakan rindu yang hambar, ku sebut itu cinta
karena malam memaksa tuk bercinta.
Hari-hari berlalu bagai embun pada penghujung pagi,
begitu rancu dan tak beraroma sama sekali, kusam.
Kau bagai siang dengan keangkuhannya, sedang cintaku bagai
malam dengan keheningannya, kita paksakan tuk bertemu pada senja atau
pagi yang gulita. Memang singkat kau ku dekap, namun wangimu
semakin melekat seiring langkahmu yang semakin menjauh.
Aku menulismu dalam kata dan nada pilu,
merindumu pada waktu-waktu yang kelabu,
Di penghujung rembulan yang masih indah,
ku dekap butir-butir senyum yang pernah kau hibahkan,
Ku sandarkan risau pada sepi sepeninggal agustus, ku tangisi waktu dan tiap-tiap detak detiknya. lalu,
ku sebut kau cinta walau kita tak pernah bersepakat dengan cinta.
Kasih, Kita tak pernah bersepakat dengan waktu dan semua yang sempat kita sebut rindu.
Makassar, 04 Nov, 2014
Share:
Kita dalam Kata

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Berita Harian

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts