Adinda, mungkin bagimu terasa sia-sia menyayangi orang sepertiku,
mungkin terasa jenuh bagimu dengan sikapku yang tak menentu. Mungkin kau
berpikir bahwa aku tak simpati terhadapmu. Tak apa, tidak ada yang
salah dalam berprasangka. Tapi jujur, aku lah yang teramat sering
memperhatikanmu dalam diam, Tak pernah jeda merindumu dalam bisu. Memang
akan lebih anggun jika ku utarakan, tapi aku malah khawatir jika hal
itu hanya akan menjadi kebiasaan belaka. Rindu itu bukan di kata atau
frasa, rindu itu di jiwa dan rasa. Biarkan aku mengagumimu lewat malam
dan jarak, biarkan aku menyapa dengan sederhana dan secukupnya. Bukan
berarti aku lupa atau tak perduli, bagiku kau adalah detak nadi yang tak
perlu ku bahasakan terlalu banyak. Adinda yang memesona jiwa, walaupun
kau tak ku sapa percayalah nama dan sosok mengakar lalu mengalir di
darahku. Sungguh sulit ku ungkapkan betapa kesibukan memaksaku tuk
merindumu lebih dalam lagi. Adinda, percayalah usahmu tak akan pernah
sia-sia. Aku paham betul ihwal kewajibanku, untuk itu aku hendak
menyampaikan kerinduan lewat tulisan ini. Semoga kau akan paham dan
lebih sabar menyikapi waktu.
Saturday, February 25, 2017
Friday, February 24, 2017
Istirahat
Akhirnya Bibirmu menjadi bangkai di keningku,
setelah hari tertatih-tatih berlari,
juga hati yang tak letih-letih mencari,
batas jalan membawamu menuju tualang,
aku menjadi kata yang tak fasih lagi menyembunyikan lagu kehilangan.
di wajahku, Mata air mengalir menjadi air mata,
sekumpulan rasa tak mampu menjadi frasa pereda duka, puisiku penuh luka,
setelah hari tertatih-tatih berlari,
juga hati yang tak letih-letih mencari,
batas jalan membawamu menuju tualang,
aku menjadi kata yang tak fasih lagi menyembunyikan lagu kehilangan.
di wajahku, Mata air mengalir menjadi air mata,
sekumpulan rasa tak mampu menjadi frasa pereda duka, puisiku penuh luka,
detak detik waktu menyayat bait demi bait,
hingga tersisa huruf-huruf kecil yang kehilangan makna.
masa depan telah lama melupakan kita,
tak ada gunanya kau menaruh cinta,
aku tak berani lagi merawat harapan.
Polewali, 24 Februari
masa depan telah lama melupakan kita,
tak ada gunanya kau menaruh cinta,
aku tak berani lagi merawat harapan.
Polewali, 24 Februari
Thursday, February 23, 2017
SEKILAS TENTANG PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Perencanaan Pembangunan Daerah
Menurut UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan pembangunan nasional yang disebut Perencanaan adalah suatu proses
untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan
memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Sementara pembangunan daerah adalah
pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan
berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun
peningkatan indeks pembangunan manusia.
Dengan demikian perencanaan pembangunan daerah adalah
suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur
pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya
yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan
wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu.
Perencanaan pembangunan daerah dirumuskan secara
transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel, partisipatif, terukur,
berkeadilan dan berkelanjutan yang meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJPD) yang dilaksanakan untuk 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) yang dilaksanakan selama 5 tahun dan Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) untuk periode satu tahun.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
Aku Pergi Ketika Segalanya Pulang
Akhirnya aku tinggal dan kau meninggalkan,
ketika langit berapi-api, dan mataku diusap asap, aku tak apa-apa
Perpisahan akan tiba jua,
sekuat apapun kita meringkas jarak dan masa.
Kemarin akan pergi, sebentar lagi, sebentar pagi.
Sedangkan,
Malam ini, nyeri menari-nari mencari kenangan
yang tercuri oleh jutaan kehilangan,
dan untuk kepingan kisah yang paling kasih,
aku amat berterimakasih.
Desember menjatuhkan diri kepelukan masa lalu,
bulan hujan berjalan menuju pulang,
tahun akan berulang, aku akan kembali berulang tahun.
Untuk mata yang gagal membendung harapan,
maafkan atas ketidakberdayaanku di hadapan kenyataan
selama dua belas purnama lebih.
-Hampir Januari
ketika langit berapi-api, dan mataku diusap asap, aku tak apa-apa
Perpisahan akan tiba jua,
sekuat apapun kita meringkas jarak dan masa.
Kemarin akan pergi, sebentar lagi, sebentar pagi.
Sedangkan,
Malam ini, nyeri menari-nari mencari kenangan
yang tercuri oleh jutaan kehilangan,
dan untuk kepingan kisah yang paling kasih,
aku amat berterimakasih.
Desember menjatuhkan diri kepelukan masa lalu,
bulan hujan berjalan menuju pulang,
tahun akan berulang, aku akan kembali berulang tahun.
Untuk mata yang gagal membendung harapan,
maafkan atas ketidakberdayaanku di hadapan kenyataan
selama dua belas purnama lebih.
-Hampir Januari
Kala Ku Tiada Lagi
Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala jemariku tak mampu lagi tuk ungkapkan semua isi hatiku,
bahkan usus dan segenggam khayalanku
Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala kata tiada lagi bermakna
Kala mentari telah begitu gelap
Dan aku tak tahu lagi posisiku dimana.
Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala semua yang pernah kutanggalkan kupakai dan kuketatkan kembali
Dimana aku kembali menjadi bayi lagi
Dan saat kau ke rumahku Lalu kau tancapkan bendera putih
Lalu kau pahat nisanku
Kau galikan liangku Kau taburinya dengan bunga
Dan kau menangis sedang aku tersenyum
Maka aku takkan pergi meninggalkanmu
Karena aku masih berada di setiap puisiku
Kecuali kau tak betah lagi Kala aku menyanyi,
teriak dan diam di rumah imajimu.
Makassar, 2000
Kala jemariku tak mampu lagi tuk ungkapkan semua isi hatiku,
bahkan usus dan segenggam khayalanku
Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala kata tiada lagi bermakna
Kala mentari telah begitu gelap
Dan aku tak tahu lagi posisiku dimana.
Aku akan pergi meninggalkanmu
Kala semua yang pernah kutanggalkan kupakai dan kuketatkan kembali
Dimana aku kembali menjadi bayi lagi
Dan saat kau ke rumahku Lalu kau tancapkan bendera putih
Lalu kau pahat nisanku
Kau galikan liangku Kau taburinya dengan bunga
Dan kau menangis sedang aku tersenyum
Maka aku takkan pergi meninggalkanmu
Karena aku masih berada di setiap puisiku
Kecuali kau tak betah lagi Kala aku menyanyi,
teriak dan diam di rumah imajimu.
Makassar, 2000












